13 May 2013

Tuhan, aku tak minta banyak hal

Diposkan oleh Unknown di 12:26 AM 0 komentar


Tuhan, selamat pagi, selamat siang dan selamat malam ? aku tak tau di surga sedang malam ataukah siang. Sedang musim penghujan ataukah kemarau, atau mungkin musim semi. Entahlah.
                Tuhan, aku tau kau tak pernah sibuk. Aku tahu kau selalu mendengar semua doaku. Dan aku tahu kau pun juga mendengar isi hatiku. Aku tak curiga padaMu  karena aku percaya telingamu akan selalu mendengar siapapun yang percaya padaMu.  aku yakin pelukanMu dapat menghangatkan siapapun seisi dunia.
                Tuhan, masih tentang hal yang sama. Aku tak ingin mengganti topic. Masih tentang dia. Seseorang yang namanya selalu kuselipkan disetiap sujudku yang panjang.
                Tuhan, aku tahu dibalik perpisahan ini Kau punya rencana lain yang mungkin lebih baik. Tapi apakah salah jika aku masih menyelipkan namanya disetiap pertemuanku denganMu ?
                Aku tahu dia sudah menemukan penggantiku. Entah lebih baik ataukah lebih buruk. Aku tak tahu. Atas alasan apapun aku harus turut berbahagia dengan ini semua. Karena dia tak perlu bersedih seperti yang kulakukan akhir-akhir ini. Tuhan, sungguh… aku tak ingin dia merasakan sakit sepertiku. Cukup aku saja. Aku tak tega melihatnya terluka seperti luka di dadaku yang masih berbekas. Aku hanya ingin dia bahagia dengan ataupun tanpaku.
                Tuhan, aku menangis ketika mengingat semua ini, begitu cepat. Dalam hitungan jam dia mampu mencari penggantiku. Aku memang tak habis fikir. Padahal, aku sedang merasakan kebahagian yang perlahan-lahan mengisi hatiku. Tuhan, sekarang aku tahu. Aku masih belum mengerti semua tentangnya karena aku hanya melihat semua yang dia tunjukkan padaku saja, tanpa tahu apa yang ada di dalam hatinya.
 Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Bagaimana hubungannya dengan kekasihnya. Biarlah, aku tak ingin mengurusi semua hal tentang mereka, karena aku yakin dia pasti bahagia. Aku percaya dia sedang ada di titik jatuh cinta setengah mati dengan kekasihnya. Dan dia tak mungkin lagi membutuhkanku dalam setiap helaan nafasnya. Tuhan, permintaanku masih sama seperti kemarin, jagalah dia untukku, bahagiakan dia, buat dia selalu tersenyum. Aku rela menangis untuknya agar ada lengkungan senyum di bibirnya. Karena senyum itulah yang aku harapkan. Aku memang tak bisa menyentuhnya. Tapi.. dalam jarak sejauh ini aku bisa memeluknya dalam doa.
                Pernah terfikir agar aku terkena amnesia dan melupakan sakit yang aku rasakan. Agar aku tak merasa kehilangan dan tak menangisi perpisahan ini. Rasanya hidup tak akan rumit jika setiap orang bisa melupakan sakit yang mereka rasakan. Tapi aku tahu.. hidup tak seperti itu.harus ada rasa sakit agar kita merasakan bahagia.
                Kurasa aku tak harus meratapi semua ini, karena mungkin dia sedang bahagia dengan kekasihnya. Dia pasti telah menemukan kehidupan baru yang menurutnya mampu mewarnai setiap detik helaan nafasnya. Aku turut senang jika hal itu benar. Kembali ke awal. Tuhan, aku tak ingin dia merasakan sakitnya perpisahan. Aku tak minta agar dia putus dengan kekasihnya, aku juga tak minta hubungannya kandas di tengah jalan. Aku hanya ingin dia bahagia. Itu saja.
               
               

07 May 2013

lelakiku

Diposkan oleh Unknown di 12:27 AM 0 komentar


Aku masih merasakan sakit yang kau goreskan di hati ini. Rasanya masih membekas. Dan aku tak tahu cara apa yang dapat mengobatinya.dari pertama,  Aku sadar aku akan merasakan kesedihan ini. Walaupun aku mengelak seperti apapun. Air mata ini pasti akan tetap mengalir. Sekalipun aku menyembunyikannya. Karena aku seorang wanita, tak ada wanita yang tak pernah menangis di dunia ini. Jika ada. dia munafik.
 Kamu masih ingatkan lelaki yang pernah aku ceritakan tempo hari ? iya. Dia. Aku selalu menceritakan semua kejadian yang aku alami saat masih bersama lelaki itu. Seberapa besar perasaanku terhadapnya. Seberapa besar perhatiannya melumpuhkan hatiku. Dan seberapa besar senyumnya membangkitkanku.
Kamu kenal aku kan ? aku tak segampang menjatuhkan pensil  ke lantai. Tak segampang membalikkan telapak tangan untuk melupakan seseorang. Apalagi orang itu telah membuat hari-hariku lebih berwarna. Dan membuat hari-hariku cerah bak mentari menyinari cakrawala. Tapi itu semua, dulu. Saat aku masih bersamanya. Aku dan dia tak seperti dulu. Senyumannya tak semanis dulu. Sapaannya tak sehangat dulu. Dan semuanya tak seperti dulu. Aku tak bisa memahami perubahan apa yang membuat lelaki itu begitu berbeda.
Dari semua tingkah lakuku tak mungkin kamu tak mengerti perasaanku dengannnya. Dan dari semua ceritaku tak mungkin kau tuli dengan apa yang kau cerna dari omonganku. Aku terlalu banyak menunda dan memendam. Mungkin di situ letak kesalahanku. Aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Bukankah cinta itu tak pernah salah ?
Berbahagialah kamu dengan lelaki itu, lelaki yang yang selalu ku sebut dalam cerita-ceritaku. lelaki yang begitu tinggi untuk ku gapai dan begitu susah untukku memahami tentangnya. Setiap aku melihatnya denganmu aku selalu berusaha ikhlas dan yakin cinta itu tak harus memiliki.
Tapi tenanglah, aku tak akan merebutnya dari kamu. Aku tlah melupakannya. Karena tlah ada lelaki baru yang mengisi hari-hariku menggantikanmu. Sekalipun aku tak begitu menghiraukannya. Tapi sehenggaknya dia mampu membawaku keluar dari gelapnya hidup.
Lelaki  yang kini bersamamu masih menjadi bayang-bayang  yang tak pernah hilang di fikiranku. Semakin aku mencoba melawan itu. Bayanganmu semakin nyata memasuki alam bawah sadarku.  Aku tak ingin semakin terjebak di ruang nostalgia ini.
Kamu ! aku mohon, jaga lelaki itu baik-baik karena ketika kamu melepasnya, kamu tak akan mudah mencari lelaki seperti dia. Mungkin aku tak bisa menemaninya seperti dulu. Tapi tenanglah namanya  tak akan pernah absen dari setiap sembah sujudku padaMu.
Dan satu lagi, aku belum sempat membuat dia tersenyum. Tolonglah ini permintaan terakhirku. Setelah itu aku tak akan mengganggumu lagi. Aku akan pergi jauh ke mana tempat yang jauh dari memori ingatan yang masih tersisa ini.

Diposkan oleh Unknown di 12:13 AM 0 komentar

Penyesalan  yang  terelakan,

Jangan salah sangka dulu. Aku bukan menyesal mengenalmu. Dan tenanglah kamu tak pernah salah, karena aku pun belum pernah mengaku apapun padamu. Dan tentu aku pun tak menyesali itu karena aku sudah memutuskannya dan sampai terakhirku aku menyapamu aku masih tak menyesali itu.
                Kukira kamu adalah sebagian besar alas an dari apa yang ku pikirkan yang ingin kutanyakan. Apa uang ada padamu hingga aku kadang menjadi konyol. Tapi pada siapa ? kamu ? itu mustahil. Dan tak akan mungkin sanggup ku lakukan . lalu siapa / berkali-kali kupikirkan. Kitelusuri alasannya tapi kurasa kau pun yau itu nihil. Kenapa harus kamu yang membuatku seperti ini. Teraduk dalam secangkir perasaan yang tak tampak namun terefleksi dari sikapku padamu. Dan ku anggap kau tak pernah menyadarinya. Tapi aku sadar, tak ada yang bisa disalahkan sekalipun itu perasaanku sendiri.
                Dulu, kamu seolah memberiku sebuah jet yang bisa membawaku melesat. Siapa yang tak senang / aku bukan orang munafik (semoga ) terutama apapun tentangmu. Semua sikapmu seolah membiusku hingga aku sadar aku tak bisa mendaratkan jet ini . hingga jet ini tak butuh lagi kendaliku. Lalu aku harus bagaimana ? ikut jatuh dan hancur ? aku tak mau hancur dengan alas an”kamu”. Lalu ? lompat ? siapa yang menangkapku ? ada sekalipun, kurasa aku meragukannya. Lalu setelah aku jatuh, apa yang kamu lakukan.membiarkanku ?

Untuk setiap  penyesalan yang bisa kurelakan

 

Pena "KITA" Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos