24 January 2015

Semoga Cinta tidak Terlambat

Diposkan oleh Unknown di 6:15 PM 1 komentar
Cinta itu bukan tentang pungungkapan ke dunia jika dia milik kamu, tapi cinta itu bagaimana kita saling menjaga satu sama lain dan saling menguatkan ketika salah satu diantara kita jatuh. Itu yang aku lihat dari mata kalian.
Mungkin ini yang Tuhan katakan cinta sejati, cinta yang saling mengisi satu sama lain. Terkadang sebagian orang tak terlalu peka dengan cinta sejati. Tapi setelah aku melihat kalian. Aku percaya cinta sejati itu ada. Kalian saling melengkapi, saling mengisi satu sama lain. Bisa jadi jodoh. Tapi itu rahasia Tuhan yang belum terungkap.
Mulai dari tatapan, bahasa tubuh kalian. Seakan mengatakan. “Aku mencintaimu lebih dari apapun yang orang lain katakan. Aku mungkin bukan seorang pujangga yang bisa merangkai kata dengan indahnya. Bahkan aku mungkin bukan pria romantis yang selalu melakukan hal – hal yang menurut pendapat orang lain terkesan menyenangkan. Maaf, itu bukan aku. Aku hanya bisa mencintaimu dalam senyap suara malam, mengenggammu ketika kamu tak sanggup lagi berjalan. Mendekapmu ketika sapaan angin mulai menggerogoti tubuh mungilmu. Membuatkan sesungging senyum simpul di bibir manismu bahkan tawaan ketika kamu merasa hidup ini begitu sepi. Mungkin terkadang kamu berpikir “kalau kamu memang mencintaiku, kenapa kamu masih bersamanya ?” tanpa kamu katakan padaku pun aku sudah tahu akan terlintas pertanyaan seperti itu dibenakmu. Gadisku, aku tidak mau dan tidak akan pernah mau jika kamu terluka karena cibirin orang lain lantaran aku. Tidak sayang, aku tak akan sanggup melihat itu. Mungkin dimata orang lain yang selalu melihatmu di layar yang berbeda, kamu itu wanita tegar. Jarang menangis hanya lantaran hal yang memang sepantasnya tak perlu ditangisi. Tapi itu pendapat mereka. Lain denganku.

Suratku Untukmu

Diposkan oleh Unknown di 6:12 PM 0 komentar
Selamat siang kamu, apa kabar ? masihkah kesibukan menyelimutimu seperti hari – hari  biasanya ? atau mungkin hari ini kamu lagi bersantai ria dengan teman – teman barumu disana.
sudah beberapa bulan ini aku tak melihatmu lagi, kesan awalnya memang sedikit berbeda. Tapi lambat laun semua terlihat biasa. Ya, seperti kesan awal ketika kita tak bersua untuk kurun waktu yang lumayan lama.
Kuberi tahu, kali ini aku tak merindukanmu lagi sedalam dulu, entah mungkin karena kita terpisah jarak, atau perasaan itu kini mulai memudar. Hari – hari ku kini kembali seperti awal, iya. Sebelum mengenalmu. Mungkin perasaan lelah itu yang memicuku untuk perlahan – lahan mengikhlaskanmu. Memang susah, tapi kenyataannya aku bisa melakukan itu. Ada sedikit rasa bahagia yang meletup dihatiku  ketika ku mendengar namamu atau bahkan seseorang mengingatkanku lagi akan tentangmu. Aku bisa mengontrol perasaan itu, bahkan hatiku terlihat masih baik – baik saja. Sepertinya aku mulai mengikhlaskanmu. Walau terkadang aku tak pernah paham dengan perasaanku sendiri, tapi kali ini kuberanikan diri mengatakannya padamu. “priaku, aku sudah merelakanmu, bahkan mengikhlaskanmu bersama dengan wanita yang berhasil memiliki hatimu. Kali ini aku akan benar – benar pergi. Aku tak akan lagi menghubungimu seperti dulu ketika ku masih mengejarmu. Aku tak akan lagi mengganggu malam – malammu hanya untuk sekedar  mendengar  curhatanku yang kebenarannya tak bisa kupertanggung jawabkan. Iya, kala itu aku mengarang cerita. Aku hanya ingin mendengar suaramu, dan celoteh lucumu ketika menanggapi setiap cerita yang kuceritakan padamu. Itu saja. Dan untuk setiap permintaan yang selalu kamu kabulkan kala aku memaksamu. Tapi itu cukup menyenangkan. Terimakasih priaku, aku cukup bahagia bahkan sangat bahagia sekali.
Terimakasih sudah pernah ada
Terimakasih sudah memberi banyak tawa
Terimakasih sudah menaruh puluhan giga byte memori ke hard disk kepalaku
Aku tidak pernah harus berpura – pura menjadi orang lain ketika bersamamu.
Priaku, itu saja yang bisa kukatakan. Semua kenangan tentangmu masih melekat di memoriku. Tenang saja, aku tak akan menghapusnya. Karena kamu adalah bagian dari semua kenangan terindah yang pernah Tuhan berikan. Terimakasih”.
Sekarang, tak ada yang perlu di permasalahkan lagi. Semua sudah jelas, semoga kamu bahagia dengan seseorang yang Tuhan takdirkan untukmu. Aku, sebagai wanita yang dulu pernah mengagumimu, begitu sangat mengenalmu. Kamu pria baik – baik, pastinya kamu juga akan menemukan wanita baik – baik pula. Semoga kamu bahagia.


Dari teman masa lalumu.


 

Pena "KITA" Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos