Tuhan, selamat pagi, selamat siang
dan selamat malam ? aku tak tau di surga sedang malam ataukah siang. Sedang
musim penghujan ataukah kemarau, atau mungkin musim semi. Entahlah.
Tuhan,
aku tau kau tak pernah sibuk. Aku tahu kau selalu mendengar semua doaku. Dan
aku tahu kau pun juga mendengar isi hatiku. Aku tak curiga padaMu karena aku percaya telingamu akan selalu
mendengar siapapun yang percaya padaMu.
aku yakin pelukanMu dapat menghangatkan siapapun seisi dunia.
Tuhan,
masih tentang hal yang sama. Aku tak ingin mengganti topic. Masih tentang dia.
Seseorang yang namanya selalu kuselipkan disetiap sujudku yang panjang.
Tuhan,
aku tahu dibalik perpisahan ini Kau punya rencana lain yang mungkin lebih baik.
Tapi apakah salah jika aku masih menyelipkan namanya disetiap pertemuanku
denganMu ?
Aku
tahu dia sudah menemukan penggantiku. Entah lebih baik ataukah lebih buruk. Aku
tak tahu. Atas alasan apapun aku harus turut berbahagia dengan ini semua.
Karena dia tak perlu bersedih seperti yang kulakukan akhir-akhir ini. Tuhan,
sungguh… aku tak ingin dia merasakan sakit sepertiku. Cukup aku saja. Aku tak
tega melihatnya terluka seperti luka di dadaku yang masih berbekas. Aku hanya
ingin dia bahagia dengan ataupun tanpaku.
Tuhan,
aku menangis ketika mengingat semua ini, begitu cepat. Dalam hitungan jam dia
mampu mencari penggantiku. Aku memang tak habis fikir. Padahal, aku sedang
merasakan kebahagian yang perlahan-lahan mengisi hatiku. Tuhan, sekarang aku
tahu. Aku masih belum mengerti semua tentangnya karena aku hanya melihat semua
yang dia tunjukkan padaku saja, tanpa tahu apa yang ada di dalam hatinya.
Aku tidak tahu
bagaimana kabarnya sekarang. Bagaimana hubungannya dengan kekasihnya. Biarlah,
aku tak ingin mengurusi semua hal tentang mereka, karena aku yakin dia pasti
bahagia. Aku percaya dia sedang ada di titik jatuh cinta setengah mati dengan
kekasihnya. Dan dia tak mungkin lagi membutuhkanku dalam setiap helaan
nafasnya. Tuhan, permintaanku masih sama seperti kemarin, jagalah dia untukku,
bahagiakan dia, buat dia selalu tersenyum. Aku rela menangis untuknya agar ada
lengkungan senyum di bibirnya. Karena senyum itulah yang aku harapkan. Aku
memang tak bisa menyentuhnya. Tapi.. dalam jarak sejauh ini aku bisa memeluknya
dalam doa.
Pernah terfikir
agar aku terkena amnesia dan melupakan sakit yang aku rasakan. Agar aku tak
merasa kehilangan dan tak menangisi perpisahan ini. Rasanya hidup tak akan
rumit jika setiap orang bisa melupakan sakit yang mereka rasakan. Tapi aku tahu..
hidup tak seperti itu.harus ada rasa sakit agar kita merasakan bahagia.
Kurasa
aku tak harus meratapi semua ini, karena mungkin dia sedang bahagia dengan
kekasihnya. Dia pasti telah menemukan kehidupan baru yang menurutnya mampu
mewarnai setiap detik helaan nafasnya. Aku turut senang jika hal itu benar.
Kembali ke awal. Tuhan, aku tak ingin dia merasakan sakitnya perpisahan. Aku
tak minta agar dia putus dengan kekasihnya, aku juga tak minta hubungannya
kandas di tengah jalan. Aku hanya ingin dia bahagia. Itu saja.
0 komentar:
Post a Comment