Mungkin waktuku tak banyak lagi menunggumu, atau bahkan
menemanimu. Bukan maksudku meninggalkanmu atau melupakanmu. Hanya saja waktu
memintaku untuk pergi. Pergi dari kenyataan bahwa aku begitu mencintaimu. Waktu
terlalu cemburu karena aku mencintaimu lebih dari aku mencintainya. Tapi tenang
saja, aku masih memilihmu, sekalipun waktu memaksaku.
Kamu, dengarlah. Sampai terakhir kali memori ini merekam
semua tentangmu, sampai terakhir aku melihat senyummu, aku hanya ingin
mengatakan. Aku begitu mencintaimu, mencintaimu dan mencintaimu. Rasa itu masih
sama, sekalipun waktu telah berubah, malam telah berganti siang dan siang pun
berganti malam, rasa itu akan sama, karena aku telah membungkusnya dengan
harapan dan doa setiap kali aku begitu merindukanmu. Dari tetesan air mata dan
benang-benang luka yang aku jahit dengan hati yang suci.