11 September 2014

Beberapa Jam Lagi

Diposkan oleh Unknown di 11:26 PM 0 komentar
Aku dan kamu hanya tersisa hitungan jam, setelah itu kita akan benar-benar berpisah, meninggalkan dan ditinggalkan. Tapi sampai terakhir ku melihatmu, aku masih belum bisa mengatakan jika selama ini yang aku rasakan padamu adalah cinta. aku terlalu takut, takut akan semua jawaban yang kau lantunkan dari bibirmu, khawatir setelah pengungkapan itu, kamu akan semakin menjauh. Itu saja, yang selalu menggannggu pikiranku ketika pengungkapan itu ingin kukatakan.
“Penyesalan ? “

Kekasih Sehari

Diposkan oleh Unknown di 11:23 PM 0 komentar
Apa kabar pagi ? masihkah mentari menemanimu hari ini ? kalaupun saja tidak, biarkan aku kali ini yang menemanimu..
Pagi, masih ingatkah kamu tentang pria yang pernah kuceritakan tempo hari, iya dia pria yang pernah aku tinggalkan dulu. sekarang dia kembali, tapi tak sendiri, dia bersama wanita yang sekarang menyandang menjadi kekasihnya. Di sisi lain aku bahagia, akhirnya dia tak usah sesedih itu karena pernah ku tinggalkan, dia tak perlu bermurung ria sepanjang hari hanya karena mengingat kenangannya akan tentangku. Tapi di sisi lain, aku cemburu, kenapa dia segampang itu melupakanku dan menjalin kasih dengan wanita lain ? tak adakah sedikit rasa yang mungkin masih tertinggal untukku, ah lupakan kata-kata ku tadi. Waktu, mungkin ini yang pernah kamu katakan padaku,kamu akan mempertemukanku lagi dengannya tapi tidak seperti dulu kala ketika pertama kali aku mengenalnya. Aku tahu itu.

Aku Rindu Kamu

Diposkan oleh Unknown di 10:49 PM 1 komentar
Sehangat dekapan pagi, secerah senyuman mentari. Aku terduduk diperaduan asing, mendekap lutut ditemani secangkir rindu akan tentangmu.
Kamu tahu ? pagi ini aku merindukanmu, merindukan kebersamaan kita yang dulu ,mengukir setiap detail kenangan-kenangan indah. Merajut setiap untai benang harapan bersama.

12 June 2014

Menunggu

Diposkan oleh Unknown di 6:58 PM 0 komentar
Aku sedang merindukanmu. apakah kau tahu itu ?
Saat bulan penuh di atas kepala, aku menggantungkan doa untukmu di antara bintang-bintang.
Semoga suatu saat hatimu akan menoleh kepadaku. Menyadari bahwa akulah akhir dari penantianmu.

Aku ingin memelukmu, meraihmu, dan menyembunyikanmu dalam dekapku.
aku tak akan melepaskanmu pergi, aku janjikan itu padamu.
Dan keasabaranku kian menipis seperti batu yang terus-terusan digerus air.
Aku sudah menunggu terlalu lama, nyerinya semakin kian terasa nyata.

Aku mencintaimu. karenanya aku selalu merindukanmu.
Namun, seperti pertanyaan yang kubisikkan pada rembulana malam itu, apakah kau juga sedang merindukanmu ?


Dahlian & Robin Wijaya

Aku menyesal pernah bermimpi mencintaimu

Diposkan oleh Unknown di 4:55 PM 0 komentar



Aku menyesal pernah bermimpi mencintaimu, sungguh. Kata itu yang ingin aku teriakkan setiap kali ingatanku memintamu mengisi di dalamnya. Aku benci kamu, iya kamu. Bukan karena penolakan itu, tapi caramu membawaku terbang setinggi mungkin, lalu kau tinggalkan aku sendiri, terbang dengan perasaan yang mungkin tak pernah kau bayangkan.
Setiap lekuk senyuman, perhatian bahkan sapaan “sayang” itu aku anggap hal yang berbeda. Bukan sekedar hanya bualan belaka. Tapi nyatanya aku tertipu. Kamu yang selama ini mengisi setiap ganjilku, hati kita berbeda. Aku mencintaimu dan kamu mencintainya. Terlalu klise.

08 April 2014

Ketika Waktu Menjemput

Diposkan oleh Unknown di 6:18 AM 0 komentar
Mungkin waktuku tak banyak lagi menunggumu, atau bahkan menemanimu. Bukan maksudku meninggalkanmu atau melupakanmu. Hanya saja waktu memintaku untuk pergi. Pergi dari kenyataan bahwa aku begitu mencintaimu. Waktu terlalu cemburu karena aku mencintaimu lebih dari aku mencintainya. Tapi tenang saja, aku masih memilihmu, sekalipun waktu memaksaku.
Kamu, dengarlah. Sampai terakhir kali memori ini merekam semua tentangmu, sampai terakhir aku melihat senyummu, aku hanya ingin mengatakan. Aku begitu mencintaimu, mencintaimu dan mencintaimu. Rasa itu masih sama, sekalipun waktu telah berubah, malam telah berganti siang dan siang pun berganti malam, rasa itu akan sama, karena aku telah membungkusnya dengan harapan dan doa setiap kali aku begitu merindukanmu. Dari tetesan air mata dan benang-benang luka yang aku jahit dengan hati yang suci.

Takdir...

Diposkan oleh Unknown di 6:16 AM 0 komentar
Takdir, pertemukan aku dengannya, jika menurutmu untuk terakhir kalinya, tidak masalah. Asalkan dia memaafkanku, dan dihatinya tak pernah ada lingkaran hitam ketika mengingatku.
Memoriku mungkin tak cukup untuk mengingat semua tentangnya, mungkin juga waktuku tak banyak lagi untuk setia menunggunya. Bukan masalah lelah. Tapi masalah waktu. Mungkin suatu saat nanti, waktu memintaku pergi dan meninggalkannya, atau mungkin aku tak akan pernah kembali, karena tak ada yang tau misteri dibalik kata “TAKDIR”.  

wanita tetaplah wanita

Diposkan oleh Unknown di 6:14 AM 0 komentar
Kami menyala dalam kegelapan
Kami berbisik dalam keheningan
Kami gagah dalam kelembutan
Kami bisa bicara tanpa suara
Ketika pidana datang menghardik kita
Kami patuh pada takdirnya
Ketika piatu menangis dan meremukkan hati
Kami hadir dengan pelukan
Dan aku membusung bangga dengan sebutan kami
Dari gadis, perawan tua, hingga sebutan janda bahkan pelacur
Tapi tulang tetaplah tulang, tetap menggigil tanpa diselimuti daging
Walaupun kokoh menopang tubuh
Kami pun sama, bagaimanapun kuatnya kami

Wanita tetaplah wanita. 

Untukmu pria di ufuk senja #5

Diposkan oleh Unknown di 6:13 AM 0 komentar
Pria senja
Waktuku mungkin tak banyak lagi untuk menunggumu, aku cukup lelah menanti tanpa pernah kau hiraukan. Menanti tanpa pernah kau anggap ada. Mungkin memang perasaaan ini hanya segunung sampah yang tak harus kau perhatikan. Aku tahu itu.
Pria senja
Kali ini tentang rasa itu, aku telah mencoba membuangnya, dan mencoba melupakan, tapi entah kenapa aku tebunuh oleh rasa itu, aku selalu merindukanmu, selalu berharap suatu saat nanti kamu akan kembali seperti dulu. Berharap kamu mengerti dan mulai memahami.
Pria senja

Bayang-bayangmu selalu menghantuiku kerap kali aku mengingatmu, dia tak pernah lari dari pikiranku, berkejarang seperti gulungan film yang tak berhenti tayang, kadang aku merasa tersiksa.   

Untukmu pria di ufuk senja #4

Diposkan oleh Unknown di 6:09 AM 0 komentar
Senja itu menyapamu dengan segenap keraguan, menyapa luka yang entah kapan sembuhnya. ‘Kamu pria senja’ itu panggilanku untukmu  “si pria senja” . masihkah senja menemanimu ? masihkah senja menjadi alasanmu tersenyum ? masihkah senja menjadi sebab semua tawamu ?
                Kamu “si pria senja”, aku merindukanmu, merindukan celoteh renyah kita dibawah senja, merindukan kebersamaan kita, merindukan semua hal yang pernah aku lakukan bersamamu “si pria senja”. Kali ini senja tak pernah lagi menyapaku sehangat dulu, entah karena dia merindukanmu atau kah dia tahu apa yang sedang terjadi denganmu. jika waktu mampu ku ajak bicara, aku hanya ingin melewatkan kebersamaan kita lagi dibawah senja. Denganmu tentunya. Kali ini saja, temui senja. Katakan kamu juga merindukanku.

Untukmu pria di ufuk senja #3

Diposkan oleh Unknown di 6:07 AM 0 komentar
Kamu, tentang kamu, pria yang selama ini masih mengisi sela-sela pikiranku. Bagaimana keadaaanmu ? beberapa hari ini aku tak melihatmu. Entah kamu yang menghindar atau memang kamu yang tak ingin melihatku.
Kamu, pria, masihkah hatimu sebeku batu ? mengunci setiap sudut yang ingin aku masuki. Menutup semua pintu yang ingin kulalui. Apa yang salah denganku ? hingga melihatku saja, kamu begitu enggannya ? sekotor itu kah aku di pandanganmu ? aku tahu kata maaf tak mungkin menghapuskan bekas luka didalamnya. Tapi apakah harus dengan ini caranya kamu menghukumku ? tak adakah cara lain yang sedikit masih bisa di toleransi ? tak adakah ?

Untukmu pria di ufuk senja #2

Diposkan oleh Unknown di 6:05 AM 0 komentar
bagaimana kabarmu ? masihkah menjadi pria misteriusku ?
aku sedikit heran ketika salah seorang sahabatku mengatakan “kamu adalah orang yang mudah ditebak” tapi mengapa tidak denganku ?
menurutku, kamu salah satu orang didunia ini yang paling susah aku tebak. Aku tidak pernah mengerti semua maksud tingkah lakumu, gerak-gerikmu, bahkan maksud hatimu. Aku tidak pernah bisa membacamu seperti dia membacamu. Entah aku yang salah atau memang seperti itu adanya.

28 February 2014

Untukmu pria di ufuk senja#1

Diposkan oleh Unknown di 10:55 PM 0 komentar
Untukmu, pria yang tak pernah menyadari kehadiranku.
Maaf bila aku terlalu egois dan tidak mau mengatakannya secara langsung denganmu, kamu tahu, aku tak punya nyali sebesar nyalimu. Mungkin, tulisan ini sangat memalukan, tapi ini yang aku rasakan  setelah sekian lama denganmu.
‘Kamu, apa kabar ?’
Aku sering kali menyapamu dengan kalimat itu, di pesan singkatmu maupun di social mediamu. Atau aku hanya tersenyum dan kuharap, kamu tahu senyum itu tulus dari hatiku. Sunggguh. Tapi kamu jangan berpikir aku tidak pernah tersenyum tulus kepada semua orang, maksudku bukan begitu. Mmm gimana menjelaskannya. Intinya aku tulus tersenyum padamu, jujur, itu senyum dari hati aku yang terdalam.

21 February 2014

untukmu, pemilik senyum manis

Diposkan oleh Unknown di 7:06 PM 0 komentar
Disampingmu adalah tempat ternyaman untukku. 21 February 2014
Untukmu pemilik senyum manis.
Bagaimana kabarmu ? masihkah merasa sendiri ? terakhir kali kau menyapaku, kulihat keadaanmu tak seceria dulu, binar dimatamu tak sehangat dulu, juga sapaanmu kepadaku pun tak serenyah dulu. Ada apa denganmu? adakah hal yang salah denganku ?

cinta sesaat

Diposkan oleh Unknown di 7:00 PM 0 komentar
Hari ini seseorang yang baru sesaat ini mengisi setiap gelembung-gelembung nafas yang kuhembuskan. Baru saja mengisi labirin- labirin hati, dan baru saja mengisi kekosongan kekosongan hari hariku. Dia ada didepan mataku, bertingkah yang entah apa maksudnya. Mulut ini tak bisa menjelaskan , karena hanya hati yang mengerti apa maksud dari semua tingkahnya. Tapi aku tak ingin memikirkannya dengan hati, pasti semua akan berhenti  dengan jawaban kosong . untuk semua tentangmu, aku terlalu lelah menjadi pendengar setiamu, menjadi seseorang yang hanya kamu anggap tak pernah hadir dalam hidupmu, menjadi seseorang yang selalu engkau tak perdulikan, aku lelah, mencoba tersenyum disaat kamu begitu mesrah dengan wanita lain .aku lelah karena selalu aku dan aku yang harus menunggu.

pesan singkat itu

Diposkan oleh Unknown di 6:38 PM 0 komentar
Pesan singkat yang selalu kau selipkan di setiap ujung malam, kini  hilang tanpa kabar. Entah karena apa aku tidak bisa menemukan jawabannya. Semua otakku penuh dengan kata- kata mungkin tentang kamu. Masih belum jelas.

untukmu, masa lalu

Diposkan oleh Unknown di 6:37 PM 0 komentar
Kamu, aku merindukanmu, sungguh , sangat merindukanmu . hanya saja aku tak mampu mengungkapkannya kepadamu, aku lebih memilih  diam, bukan apa, aku takut kamu menertawakanku , dan mungkin lebih dari itu , aku tak mengerti denganmu , kau tak pernah menyapaku seperti dulu, tak pernah tersenyum denganku seperti dulu , semuanya tentangmu tak seperti dulu, salahkah aku , jika aku merasakan seperti itu ? aku bingung aku harus bersikap apa ketika kamu menatapku , atau pun bahkan berjalan disampingmu, semua terlalu berbeda. Aku tak merasakan hembusan nafasmu yang dulu, sungguh berbeda, semuanya terlalu cepat , aku terlalu sulit untuk menerimanya .

Hujan

Diposkan oleh Unknown di 6:31 PM 0 komentar

Hujan, ya tentang hujan, untuk pertama kalinya aku bahagia karena hujan. Hujan pernah menahanmu bersamaku untuk beberapa saat, sekalipun hanya dalam kejapan mata. Entah rencana takdir yang mana, untuk pertama kalinya waktu berpihak kepadaku.
Kamu tahu, aku bahagia, benar-benar bahagia, seakan waktu ingin ku hentikan, tapi entah denganmu,
 

Pena "KITA" Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos