Untukmu, pria yang tak pernah
menyadari kehadiranku.
Maaf bila aku terlalu egois dan
tidak mau mengatakannya secara langsung denganmu, kamu tahu, aku tak punya
nyali sebesar nyalimu. Mungkin, tulisan ini sangat memalukan, tapi ini yang aku
rasakan setelah sekian lama denganmu.
‘Kamu, apa kabar ?’
Aku sering kali menyapamu dengan
kalimat itu, di pesan singkatmu maupun di social mediamu. Atau aku hanya
tersenyum dan kuharap, kamu tahu senyum itu tulus dari hatiku. Sunggguh. Tapi
kamu jangan berpikir aku tidak pernah tersenyum tulus kepada semua orang,
maksudku bukan begitu. Mmm gimana menjelaskannya. Intinya aku tulus tersenyum
padamu, jujur, itu senyum dari hati aku yang terdalam.
Oh iya, untuk malam itu, aku
bahagia, sunggguh sangat bahagia, untuk pertama kalinya kamu mengajakku,
maksudku menjemputku sekalipun yang pertama kali mengajakmu adalah aku.
sudahlah itu tidak penting. kamu tahu, betapa bahagianya aku ketika kita hanya
berjarak bajumu, payungmu, bajuku dan aku. serasa begitu dekat. Apakah kamu tak
merasakan getaran ? padahal jantungku berdegup begitu kencang.
Tidak pernah terbayangkan satu
payung denganmu dibawah rintihan hujan dan gelapnya malam, sungguh
membahagiakan, tapi itu untukku. Entah denganmu ? akankah kamu merasakan hal
yang sama denganku ? semoga saja iya :’)
Kamu, tak pernahkah menolehku ?
Menolehku sebagai wanita yang sedang
mencintaimu, pernahkah ?
Menolehku sebagai wanita yang
menunggu kabarmu, sekalipun itu hanya lewat pesan singkatmu, tak pernahkah kamu
perduli ketika aku sangat
mengkhawatirkanmu. Mungkin kamu tidak akan pernah tahu ketika aku
mengkhawatirkanmu sekalipun merindukanmu, karena aku tak mungkin mengatakan
secara langsung kepadamu, karena aku tahu mungkin kamu tidak akan menghiraukannya.
Aku tahu kamu lebih dari yang kamu tahu.
Pernah waktu itu salah satu teman
dekatku menanyakan pertanyaan
“apa yang membuatku begitu
menyayangimu ?”
Tanpa banyak berpikir aku menjawabnya
“aku tak pernah punya alasan
menyayangimu, sekalipun itu satu buah kata, tidak ada. Menurutku, bukankah
cinta itu tidak pernah menerima alasan ? :’) “
Aku baru menyadari konyolnya jawaban
itu ketika kulihat ekspresi wajah temanku. Ah, sudahlah lupakan.
Sebentar, “aku menyayangimu” aku
baru sadar aku mengucapkan kata-kata itu, sungguh. Tapi apa alasannya ? Mmm
sudahlah.
0 komentar:
Post a Comment