28 February 2014

Untukmu pria di ufuk senja#1

Diposkan oleh Unknown di 10:55 PM
Untukmu, pria yang tak pernah menyadari kehadiranku.
Maaf bila aku terlalu egois dan tidak mau mengatakannya secara langsung denganmu, kamu tahu, aku tak punya nyali sebesar nyalimu. Mungkin, tulisan ini sangat memalukan, tapi ini yang aku rasakan  setelah sekian lama denganmu.
‘Kamu, apa kabar ?’
Aku sering kali menyapamu dengan kalimat itu, di pesan singkatmu maupun di social mediamu. Atau aku hanya tersenyum dan kuharap, kamu tahu senyum itu tulus dari hatiku. Sunggguh. Tapi kamu jangan berpikir aku tidak pernah tersenyum tulus kepada semua orang, maksudku bukan begitu. Mmm gimana menjelaskannya. Intinya aku tulus tersenyum padamu, jujur, itu senyum dari hati aku yang terdalam.
Oh iya, untuk malam itu, aku bahagia, sunggguh sangat bahagia, untuk pertama kalinya kamu mengajakku, maksudku menjemputku sekalipun yang pertama kali mengajakmu adalah aku. sudahlah itu tidak penting. kamu tahu, betapa bahagianya aku ketika kita hanya berjarak bajumu, payungmu, bajuku dan aku. serasa begitu dekat. Apakah kamu tak merasakan getaran ? padahal jantungku berdegup begitu kencang.
Tidak pernah terbayangkan satu payung denganmu dibawah rintihan hujan dan gelapnya malam, sungguh membahagiakan, tapi itu untukku. Entah denganmu ? akankah kamu merasakan hal yang sama denganku ? semoga saja iya :’)
Kamu, tak pernahkah menolehku ?
Menolehku sebagai wanita yang sedang mencintaimu, pernahkah ?
Menolehku sebagai wanita yang menunggu kabarmu, sekalipun itu hanya lewat pesan singkatmu, tak pernahkah kamu perduli ketika aku sangat  mengkhawatirkanmu. Mungkin kamu tidak akan pernah tahu ketika aku mengkhawatirkanmu sekalipun merindukanmu, karena aku tak mungkin mengatakan secara langsung kepadamu, karena aku tahu mungkin kamu tidak akan menghiraukannya. Aku tahu kamu lebih dari yang kamu tahu.
Pernah waktu itu salah satu teman dekatku menanyakan pertanyaan
“apa yang membuatku begitu menyayangimu ?”
 Tanpa banyak berpikir aku menjawabnya
“aku tak pernah punya alasan menyayangimu, sekalipun itu satu buah kata, tidak ada. Menurutku, bukankah cinta itu tidak pernah menerima alasan ? :’) “
Aku baru menyadari konyolnya jawaban itu ketika kulihat ekspresi wajah temanku. Ah, sudahlah lupakan.

Sebentar, “aku menyayangimu” aku baru sadar aku mengucapkan kata-kata itu, sungguh. Tapi apa alasannya ? Mmm sudahlah. 

0 komentar:

Post a Comment

 

Pena "KITA" Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos