Penyesalan yang
terelakan,
Jangan salah sangka dulu. Aku bukan
menyesal mengenalmu. Dan tenanglah kamu tak pernah salah, karena aku pun belum
pernah mengaku apapun padamu. Dan tentu aku pun tak menyesali itu karena aku
sudah memutuskannya dan sampai terakhirku aku menyapamu aku masih tak menyesali
itu.
Kukira
kamu adalah sebagian besar alas an dari apa yang ku pikirkan yang ingin
kutanyakan. Apa uang ada padamu hingga aku kadang menjadi konyol. Tapi pada
siapa ? kamu ? itu mustahil. Dan tak akan mungkin sanggup ku lakukan . lalu
siapa / berkali-kali kupikirkan. Kitelusuri alasannya tapi kurasa kau pun yau
itu nihil. Kenapa harus kamu yang membuatku seperti ini. Teraduk dalam
secangkir perasaan yang tak tampak namun terefleksi dari sikapku padamu. Dan ku
anggap kau tak pernah menyadarinya. Tapi aku sadar, tak ada yang bisa
disalahkan sekalipun itu perasaanku sendiri.
Dulu,
kamu seolah memberiku sebuah jet yang bisa membawaku melesat. Siapa yang tak
senang / aku bukan orang munafik (semoga ) terutama apapun tentangmu. Semua
sikapmu seolah membiusku hingga aku sadar aku tak bisa mendaratkan jet ini .
hingga jet ini tak butuh lagi kendaliku. Lalu aku harus bagaimana ? ikut jatuh
dan hancur ? aku tak mau hancur dengan alas an”kamu”. Lalu ? lompat ? siapa yang
menangkapku ? ada sekalipun, kurasa aku meragukannya. Lalu setelah aku jatuh, apa
yang kamu lakukan.membiarkanku ?
Untuk setiap penyesalan yang bisa kurelakan
0 komentar:
Post a Comment