07 May 2013

Diposkan oleh Unknown di 12:13 AM

Penyesalan  yang  terelakan,

Jangan salah sangka dulu. Aku bukan menyesal mengenalmu. Dan tenanglah kamu tak pernah salah, karena aku pun belum pernah mengaku apapun padamu. Dan tentu aku pun tak menyesali itu karena aku sudah memutuskannya dan sampai terakhirku aku menyapamu aku masih tak menyesali itu.
                Kukira kamu adalah sebagian besar alas an dari apa yang ku pikirkan yang ingin kutanyakan. Apa uang ada padamu hingga aku kadang menjadi konyol. Tapi pada siapa ? kamu ? itu mustahil. Dan tak akan mungkin sanggup ku lakukan . lalu siapa / berkali-kali kupikirkan. Kitelusuri alasannya tapi kurasa kau pun yau itu nihil. Kenapa harus kamu yang membuatku seperti ini. Teraduk dalam secangkir perasaan yang tak tampak namun terefleksi dari sikapku padamu. Dan ku anggap kau tak pernah menyadarinya. Tapi aku sadar, tak ada yang bisa disalahkan sekalipun itu perasaanku sendiri.
                Dulu, kamu seolah memberiku sebuah jet yang bisa membawaku melesat. Siapa yang tak senang / aku bukan orang munafik (semoga ) terutama apapun tentangmu. Semua sikapmu seolah membiusku hingga aku sadar aku tak bisa mendaratkan jet ini . hingga jet ini tak butuh lagi kendaliku. Lalu aku harus bagaimana ? ikut jatuh dan hancur ? aku tak mau hancur dengan alas an”kamu”. Lalu ? lompat ? siapa yang menangkapku ? ada sekalipun, kurasa aku meragukannya. Lalu setelah aku jatuh, apa yang kamu lakukan.membiarkanku ?

Untuk setiap  penyesalan yang bisa kurelakan

0 komentar:

Post a Comment

 

Pena "KITA" Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos